Tampilkan postingan dengan label Sekedar Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekedar Cerita. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Februari 2017

Mom To Be... (Part 3)

Desember 2016

Sejujurnya saya menunggu Bulan Desember datang. Akhirnya libur selama 2 pekan.
Diakhir bulan, jelang ulang tahun pernikahan, suami malah dinas luar sebagai panitia LDKS di Cipanas, berhubung saya belum libur, saya sendirian di Serang selama 4 hari.

Jadi, selama hamil, ada beberapa makanan yang menjadi apa ya istilahnya, "ngidam"-nya saya. 
1. Kecapi (Berhasil dibeli di Baros jelang usia kandungan 10 pekan)
2. Lontong Padang +Sala. Ini makanan bikin saya Baper parah, karena saya menginginkan ini makanan hampir 3 bulan. Sudah sampai tahap nangis - nangis dan ngambek parah sama Mama, Ajo Aish, dan Eka Dermawan. Parahnya mereka cuma ngetawain saya. Kan sebeeeeel.
3. Dan terakhir, strawberry, ini inginnya sih sudah dari awal hamil, tapi tidak membuat saya sangat ingin seperti lontong padang. Saya masih bisa santai dan mencari dengan tanpa nafsu. Dan baru terwujud bulan Desember.

(Setelah makanan ini, tetap ada sih makanan - makanan yang kepingin saya makan selama hamil)

Setelah suami pulang dari LDKS, kami malah terjebak di Serang nyaris sampai pergantian tahun. Mulai dari pemberkasan pindah jadi pegawai provinsi hingga sekedar malas meninggalkan Bule sendirian di Serang.

Akhirnya, 28 Desember 2016, kami pulang ke Jakarta, besoknya, kami ke Tangerang, tanggal 31 Desember kami kembali ke Jakarta, dan 1 Januari kembali ke Serang.

Kandungan saya?
Alhamdulillah baik baik saja dan kuat diajak bolak balik dalam waktu yang sesingkat itu. Tapi jangan tanya porsi makan saya. Hehehe.

Sekembalinya ke Serang, saya cek ke dokter, ternyata berat badan saya hanya bertambah 1 kilo, sednag janin saya bertambah 400 gram.

Senin, 20 Februari 2017

Mom To Be... (Part 2)

Sepetember 2016

Semua berjalan lancar, nyaris tidak ada kendala apapun, paling Pak Suami yang sedang keranjingan memaksa saya meminum susu hamil.

Oktober 2016

Tidak ada yang istimewa selain saya mulai intensif muntah - muntah, mulai iseng cari - cari dokter kandungan, mulai mikir mau lahiran dimana. Makin menjadi makan buahnya, mulai menghindari mie instan, minuman berpengawet dan beroksidasi.

Salah satu yang menjadi topik pembahasan dirumah antara saya, suami, dan Bulenong (ini kucing saya, ah saya bahkan lupa bercerita tentang kepergian Memong dan kedatangan Bulenong dirumah ini), adalah mau tinggal di Serang atau tinggal sementara di Tunjung Teja. Mengontrak rumah sementara sampai lewat trisemester 1 atau trisemester 2.

Sesuatu yang akhirnya cuma jadi wacana. 

Hingga..

Minggu terakhir dibulan September 2016, saya untuk pertama kalinya mengalami keputihan yang kecokelatan, sampai saya sendiri tidak yakin ini keputihan atau flek darah. Tapi tetap saja, akhirnya, ketika dibawa ke dokter kandungan saya, saya harus bedrest selama 3 hari, pas dibawa ke bidan langganan saya, saya juga dikasih surat untuk ijin sakit selama 3 hari. Total seminggu saya bedrest dirumah.
Tapi jangan bayangkan bedrest versi saya adalah benar - benar tidak beranjak dari tempat tidur, pastinya tidak, bedrest versi saya adalah tetap membersihkan rumah semampu saya. Hahaha.

Diakhir pekan, mama dan Ajo Aish, Daffi, Mba Dwi, dan Adibah datang ke Serang, keputusannya, saya harus mengontrak di Tunjung.

November 2016
Tanggal 4 November, setelah mama memaksa saya untuk ngontrak di Tunjung, saya mulai mengalami masa - masa alay ga bisa jauh dari rumah. Yang ada di otak saya hanya Bulenong, dan Televisi.

Ditambah tetangga sebelah rumah yang sedang membangun rumahnya dengan gaya seenaknya, main ambil lahan garasi saya, main parkir kendaraan seenaknya pas didepan garasi saya, mengambil bata saya seenaknya, yang paling parah, tukangnya dengan iseng membuang puntung rokok ke kamar belakang melalui kisi - kisi lubang udara.

Sesuatu yang membuat saya ragu meninggalkan rumah.

Tapi, mulai tanggal 5 November, untuk pertama kalinya saya menempati rumah kontrakan di Tunjung.

Rasanya? Tidak betah, saya benar - benar ingin pulang ke Serang.

Tanggal 6 November 2016, suami membawa Bulenong ke Tunjung, saya sedikit lebih tenang. Setidaknya tidak terlalu sepi menunggu suami sampai kerumah.

Tanggal 7 November 2016, sebelum shalat isya, saya mendapati dua titik darah merah di celana dalam saya, jika sebelumnya hanya cokelat yang seperti darah, kali ini saya benar - benar melihat dua titik kecil darah dicelana dalam saya.

Panik, ketakutan, akhirnya telepon Ajo Aish, telepon suami susah sekali diangkat karena sedang dalam perjalanan ke Tunjung. 15 menit setelah adegan panik, suami sampai dirumah.

Jelang jam 21.30, kami memutuskan ke Serang. Belum sampai Serang, kami sempat mencari klinik yang buka 24 jam, walau seadanya tapi setidaknya masih ada mesin USGnya, beruntung, janin diperut saya baik - baik saja. Karena obat penguat janin dari dokter kandungan saya di Serang masih ada beberapa butir, saya putuskan untuk menunda perjalanan ke Serang malam itu, kami kembali ke kontrakan dan istirahat.

Pagi hari, kami pulang ke Serang, ternyata keputihan parah. Solusinya kembali Bedrest untuk 1 minggu kedepan.


Pertengahan November, saya malah pelatihan di Bandung. Memulai kegiatan sebagai Ibu Pekerja.

Jumat, 17 Februari 2017

Mom To Be.. (Part 1)

Juli 2016,
Suasana duka masih menyelimuti, kepergian bapak mertua masih kuat mempengaruhi suami. Dan saya, sudah hampir sebulan tidak kedatangan si menstruasi.

Ini bukan kali pertama saya telat datang bulan. Reaksi saya seperti kebanyakan orang adalah berharap kemudian saya tepis, ah, toh dimasa lalu, saya pernah hampir 2 bulan tidak kedatangan tamu bulanan. Kenapa sekarang saya anggap berbeda. 

Kegiatan Juli dimulai lagi, pertengahan Juli setelah lebaran masuk lagi seperti biasa. Saya ngebut lagi ke Tunjung, tetap seperti biasa. Pernah sekali, ketika sedang menunggu lampu menjadi hijau di perempatan Boru, tiba - tiba terlintas, kalau saya hamil bagaimana ya?

Jawab saya pongah, kalau saya hamil, anak ini harus mengikuti ritme hidup saya dan suami. Karena beginilah adanya keluarga kami.


Agustus 2016
Waktu berlalu hingga pertengahan Agustus, saya tiba - tiba merasakan gejala vertigo, benar - benar pusing dan berkunang, ke dokter klinik langganan dan hasilnya, dirujuk ke bagian penyakit dalam. Saya merenung, diusia semuda ini, dengan jarak tempuh kerja yang jauh dan naik motor setiap hari, saya sangat ingin menangis.
Tapi, seperti biasa, saya dan suami hanya mampu pasrah.

Sempat juga saya nekad ke Jakarta karena Ayah Uwo sakit dan dirawat di UKI. Sampai sana, muka saya pucat, kepala saya pusing luar biasa, dan niat awal saya ingin menunggui ayah uwo di rumah sakit terpaksa batal demi kesehatan saya sendiri.


Awal Agustus, saya masih sempat ikut ke Purwakarta ke rumah baru Uncu dan Tante Wiwi. Selama perjalanan pulang dan pergi, saya menguasai bangku belakang di mobil Nanung (yang sebenarnya kursi belakang adalah deretan kursi dengan guncangan terkuat dari semua susunan kursi di mobil). Sepanjang perjalanan saya hanya mampu tidur.

Akhir Agustus, sepulang sekolah, badan saya meriang, rasanya seperti gabungan masuk angin parah dan maag yang kambuh. Saya WA suami, bilang maaf karena hari ini tidak sanggup membersihkan rumah seperti biasa. Reaksi suami, menyuruh saya tidur tanpa memikirkan kerjaan rumah. Yang penting kamu sembuh dulu, itu katanya.

Ketika rebahan, tiba - tiba saya merasa sangat mual. Belum sampai ke kamar mandi, saya sudah muntah dikamar, mengenai kasur, reaksi saya, langsung membereskan muntahan saya dan menjemur spring bed. Terbayangkan, saya mengangkat spring bed sendirian (padahal saat itu saya sedang hamil muda)

Sepulangnya suami, kami memutuskan untuk ke dokter, suami sudah bertekad untuk cek darah karena khawatir penyakit saya lebih dari sekedar masuk angin, maag atau vertigo.

Sampai diklinik waktu menunjukkan pukul 20.45, 15 menit lagi sebelum klinik tutup.
Konsulasi dengan dokter hingga dokter sampai pada pertanyaan:

Kapan terakhir kali menstruasi?

Saya: 25 Juni 2016 (saya ingat karena hari itu buka bersama di Saung Mang Engking Depok bersama mama, ajo, Daffi, Adibah, bu Ning, dan mba Dwi)

Dokter Badiyah : Sudah hampir 2 bulan ya, sudah testpack?
Saya: Belum Dok, palingan hasilnya sama
Dokter Badiyah : Coba testpack saja ya?
Saya : Kayaknya ga usah dok.
Dokter Badiyah : Jangan begitu, siapa tahu, Allah memberi disaat yang paling tepat kan.

Setelah desakan Suami dan Dokter Badiyah, saya ke kamar mandi klinik dan Testpack, hasilnya?

DUA GARIS PINK.

Refleks saya menangis masuk ke ruang konsultasi lagi. Saya ingat tangan saya gemetar menunjukkan hasil testpack pada suami saya. Rasanya terlalu tidak mungkin untuk saya. Seringkali saya bilang,
""Hamil itu hak preogratif Allah, mau usaha sekeras apapun, mau usaha kemanapun, kalau Allah  bilang belum ya artinya belum. Kalau Allah sudah berkehendak mau melawan seperti apapun, pasti akan  hamil.""

Dan itu terjadi pada saya.

Keluar dari klinik langsung telepon Mama. Reaksi Mama,

Yang benar? Coba test ulang nanti. Beneran ga nih?

Lalu telepon ibu mertua, reaksi ibu mertua adalah menangis.

Keduanya mengingatkan saya dan suami untuk benar - benar menjaga calon janin ini.

Oh ya, saya ingat, itu tanggal  23 Agustus 2016.

Keesokannya, saya memeriksakan diri ke RSUD Kab, Serang. untuk pertama kalinya saya bertemu dengan janin saya. Usia Kandungan saya sudah 7 minggu. Sudah terbentuk kantong janin dan sudah ada janin yang sehat didalamnya.

Saya ingat tidak berhenti tersenyum, tidak lepas bergandengan tangan dengan suami saya. Dan tanpa kami sadari, mulai hari itu, 24 Agustus 2016, suami menjadi posesif terhadap segala gerak dan tingkah laku saya.

Pulang dari RSUD, alih  - alih saya malah ke Karang Bolong untuk pelatihan kurikulum selama 4 hari.

Dan perjalanan Mom To Be saya dimulai...

Selasa, 02 Februari 2016

Rumah Setengah Jadi, Hujan, dan Kucing

Sore ini, sepulang sekolah, Memong -Kucing yang sudah 4 bulan ini kami adopsi- mengeong keras dari ruang tamu. Menunggu pintu terbuka. Teringat jelas, 5 hari lalu, saat kunci rumah hilang, Memong sampai memanjat teralis jendela rumah kami untuk sekedar melihat Icha yang tidak juga masuk walau sudah lama parkir.

Hujan menghalangi keinginan Memong untuk berlari ke depan rumah dan melakukan ritual mengelilingi motor atau sekedar duduk diteras rumah.

Icha segera menangkapnya dan membawanya keteras agar terpercik air hujan dan kemudian terpingkal melihat Memong menyerbu masuk tidak sampai sedetik kemudian.

Menaruh semua pakaian basah ditempat baju kotor, lalu refleks ke kamar bbelakang dan membersihkan muka.

Icha tersadar, sudah hampir beberapa minggu begitu cuek dengan muka yang kusam pulang dari sekolah.

Sambil berdiri depan kaca, mata Icha melihat melalui cermin ke jendela kamar belakang, sejak pindah seminggu lalu, pintu belakang tidak pernah dibuka. Sekedar jengah dan bikin stres melihat rencana membuat dapur di lahan itu berantakan.

Sore ini, sambil memandang ke lahan dibelakang rumah, Icha dan Memong sama - sama sibuk dalam pikiran masing - masing. Sang Manusia, Icha, sedang merenungi, apa yang sebenarnya terjadi dalam hidup kami saat ini.

Sampai tanggal 12 Januari 2016, kehidupan begitu sempurna untuk keluarga kecil Icha, rumah yang sedang dibangun, kucing kecil yang berlarian disekitar kami, rejeki yang lancar, kesehatan yang normal. Semua sempurna.

Dalam sekejap, Allah membalikkannya, sejak saat itu, sejak tidak sengaja menabrak nenek - nenek itu, kehidupan begitu membuat sesak. Tiap pekan, Icha harus mengeluarkan setengah juta untuk nenek itu. Entah sampai kapan.

Rumah sekedar menjadi rumah setengah jadi, rumah yang tidak akan membuat Icha mengundang siapapun kerumah ini hingga siap. Tapi sengaja mengundang keluarga icha dan Mas Eka sebagai pertanggung jawaban atas keteledoran kami mengambil keputusan.

Di ambang pintu belakang, Icha menaruh harap akan rencana indah hadiah dari Allah atas semua ini. Sejujurnya, cobaan kebelakang kemarin, benar - benar menghantam Icha saat itu. Walau begitu, sejak sakit kemarin Icha seolah me-recharge diri lagi. Ternyata sakit memberikan banyak waktu untuk Icha merasa sendiri, merasa butuh.

Di pintu belakang rumah setengah jadi, Icha melirik ke arah Memong yang sibuk memperhatikan hujan yang turun. Merasa bahagia memiliki Mas Eka, Memong, Ajo Aish, Mama, dan Daffi.

Walau apa yang terjadi, Icha merasa sangat beruntung memiliki dan dimiliki oleh orang - orang -dan kucing- yang terus mendukung walau semua terasa begitu berat.

Di pintu belakang rumah setengah jadi, maka tidak salah yang Icha minta pada Allah diawal semua ini terjadi, kesabaran, kesyukuran, karena itu yang Icha butuhkan.

Di pintu belakang rumah setengah jadi, tiba - tiba tersenyum dan merasa bodoh karena merasa tertekan dengan semua yang sedang dan telah terjadi, padahal belum seberapa dibanding banyak manusia yang lain.


Serang, Rumah Setengah Jadi
02 02 2016 16:15

Marrisa Syarif Tanjung

Sabtu, 09 Mei 2015

Masih Tentang Papa

Rasanya ingin memuaskan diri dengan menangis sekencang mungkin, tapi, tiap kali itu pula teringat bahwa menjatuhkan air mata akan memberatkan papa tercinta disana.

Duka ini akan menumpuk terus di hati.

Luka, sedih, sakit dan kehilangan.

Tapi ini yang akan kami hadapi.

Kemarin Ajo Aish WA Icha, bercerita tentang mimpi beberapa kerabat yang didatangi Papa dengan pesan yang nyaris sama, agar mama tidak terlalu bersedih, tidak terlalu berpikiran yang berat. Agar Aish menjaga mimpi dan cita – cita Daffi.

Satu pertanyaan yang terselip, kenapa bukan kami?

Kami amat merindukannya, berharap ada sekelebat harapan akan Papa. Mencari kenangan Papa ditiap cerita kerabat. Tentang masa lalu yang membuat dada seketika sesak.
Kami merindukannya. Icha merindukan Papa.

Rindu bercerita disore hari setiap pulang kerumah Mama. Bertiga dikamar mama, bercerita tentang masa lalu, harapan masa depan. Tentang Tunjung Teja, Tentang Mas Eka, Ajo Aish, Daffi, masa kecil papa, awal – awal rumah tangga papa – mama.

Masa kecil Icha begitu dekat dengan Papa, tiap malam selalu ada adegan cipika cipiki papa mama jelang tidur, menjelang menstruasi, kegiatan itu terhenti.

Masa – masa alay sebagai anak SMA hingga kuliah adalah masa Icha lebih sering berbeda pendapat dengan papa. Bantingan pintu, adegan ngambeg yang gak jelas, tapi anehnya, tiap lebaran selalu ada haru biru yang menyenangkan untuk dikenang.

Jelang lulus, kami mulai berdamai, mengulang kembali kenangan bagaimana papa berperan dalam memberi doa dan menyediakan waktu untuk membantu Icha menyelesaikan skripsi. Ah Papa, entah bagaimana saat itu jika Icha merasa sendiri tanpa papa dan mama.

Jelang Icha menikah, kami mulai sering berbeda pendapat lagi, puncaknya papa masuk Rumah Sakit. Ah pa, Icha sering banget durhaka sama papa ya.

Begitu menikah, hubungan Icha dan Papa kembali normal. Icha masih tinggal dirumah Papa – Mama selama 3 Bulan, setelah itu, Icha memutuskan untuk keluar dari rumah mama. Masa – masa itu Icha belajar mandiri, jadi ingat semua nasihat papa ketika Icha mau dilamar Mas Eka, percakapan anak perempuan dengan ayahnya selama 2 jam, memandang bagaimana papa dan mama menjalani pernikahan selama ini.

Hubungan kita makin berarti ketika Icha pindah ke Tangerang, frekuensi bertemu yang sangat jarang membuat kita makin memaknai tiap detik pertemuan keluarga, bagi Icha, masa – masa ketemu keluarga jadi sesuatu yang sangat penting.

Memaknai tiap percakapan, tiap canda, ah pa, sampai saat ini Icha masih sering membayangkan senyuman papa tiap kali kita bercanda, bahkan senyum terakhir papa di rumah sakit.


Pa,,, banyak cerita, yang mungkin ga akan pernah habis, Icha takut kehilangan ingatan terhadap itu semua, semoga tidak. Pa, kami merindukanmu… Sangat.

Tunjung Teja, 9 Mei 2015.

_MST_

Senin, 04 Mei 2015

Nyasar di Pandeglang

Bismillah...

Kemarin Sabtu, sehabis 40 harian papa, Icha dan Mas Eka memutuskan untuk pulang di Hari Ahad, 26 April 2015. Sebelum pulang, kami sengaja ke undangan pernikahan teman kuliah Mas Eka diPondok Indah.

Jam 11.00, kami sampai, setelah makan, nyemil gubukan, dan reuni singkat, kami pulang ke Serang.
Jam 13.30, kami sampai di Kebon Nanas, Tangerang.

14.15, kami sampai di Serang, rasanya melegakan kembali kerumah dan lari dari pahitnya kenangan di Jakarta.

Sudah senang - senang sampai Serang, sampai pintu rumah dibuka baru sadar kalau Tas Pakaian kotor tertinggal di Bis asli prima. Entah ide dari mana, kami memutuskan untuk mengejar bis itu sampai ke Labuan, Banten.

Bukan jarak yang dekat. Hampir 70 kilo dari Kota Serang. Berbekal kesotoyan parah, kami mengikuti jalur bis Murni Jaya dan Asli Prima.

Berangkat jam 15.00, kami sampai di Labuan Banten, jam 17.00.

Sejujurnya, Icha bingung dan takut membayangkan track pulang. Jauh booooook.
Beberapa kali Icha bilang ke Ayah, Mas, kita pulang aja yuk, aku udah ikhlasin kok barang - barang ditas itu.

Dan Mas Eka berkeras, kami tetap akan ke pool Asli Prima di Pandeglang. Oh My...

Perjalanan pergi lumayan lancar, karena kami hanya mengikuti jalur jalan nasional yang lumayan ramai sama motor dan mobil, agak ketar - katir di begal sih, tapi kan ini rame ya.

Perjalanan pulang yang lumayan bikin traumatis.

Sebelum pulang, kami shalat Ashar (yang sangat tertunda) di POM Bensin Labuan. Selesai, aktifkan GPS dan (dengan bodohnya, percaya 100% sama GPS), nyiahahahaha, ini kesalahan kami.

GPS menuntun kami untuk melalui jalan memotong melalui Mandalawangi, lalu tembus di Ciomas dan Palima kemudian KP3B baru sampai ke rumah.

Masalahnya, yang tidak digambarkan oleh GPS itu, jalan memotong yang disarankan oleh GPS itu ternyata jalur memotong dari jalur normal biasanya.

Melewati kaki Gunung Karang, keluar masuk hutan, jauh dari rumah penduduk, dan saat itu, menjelang malam. 
Ini jalur pulang kami, dari mandalawangi sampai Ciomas itu hutan loh




















Menjelang jalur mendaki setelah belok dari jalur utama, Mas Eka sempat bertanya.
"Bunda yakin nih Bun lewat sini? Kok jalurnya gini?"
"Yakin Yah, GPSnya nunjukkin gitu kok."

Teruslah kami berjalan, makin jauh kondisi makin sepi. Si Ayah makin resah, mau balik ke jalur utama juga sudah makin jauh. Hingga maghribpun tiba. Kami memutuskan untuk menunda maghrib hingga yakin kami berada dimana.

Sepanjang jalan makin sepi, makin gelap dan makin sedikit orang yang kami temui. Sejujutrnya, kami belum pernah melalui jalan sesepi ini. Itu adalah perjalanan paling mencekam yang pernah kami lalui. Bingung mau bertanya ke siapa.

Sampai Pasar Ciomas,pilihan jalan adalah lurus (yang harusnya kami pilih) atau belok kiri (yang ternyata membuat perjalanan kami makin jauh dan makin mencekam)

Si Ayah melihat GPS dan tidak yakin melanjutkan perjalanan lurus, cuma gara - gara tertulis jalan Mancak. Ayah yang sudah mendengar betapa legendarisnya Mancak dengan begalnya memilih ambil jalur kiri yang ternyata jalannya parah, berlubang, dan sepi sekali.

Sepanjang 12 kilo meter, kami tempuh hanya berdua, sesekali melalui permukiman penduduk. Sempat membeli bensin dan menanyakan jalan. Hingga akhirnya kami keluar di Cadasari.

Belum pernah dalam hidup Icha, Icha mengalami perjalanan yang membuat Icha begitu diam. Sejujurnya tertekan, ketakutan, dan bingung.

Sampai rumah, kami tidak mau membicarakannya, shalat maghrib dirapel Isya' berjamaah, cari makan dan tidur.

Besok sepulangnya kami dari bekerja, kami baru mencari tahu kemana kami "nyasar".
Disasarkan oleh GPS dan lebih percaya GPS ketimbang bertanya pada penduduk lokal.

Pelajaran berharga yang mengubah kami. Sekarang, kami tetap mengandalkan GPS, tetapi begitu ragu, kami tidak ragu bertanya.

Suatu saat, Icha berniat jalan ke sana lagi, diwaktu terang hingga tahu arah.

Serang...

Jumat, 17 April 2015

Papa..

Berceritalah untuk melegakan, untuk melepaskan.

Bismillah…

Sudah 9 hari berlalu dan rasa sakitnya masih basah. Membiru tanpa sebab, nyeri tanpa bertepi.

Masih teringat jelas runtutan jam perjam peristiwa itu.

Bagi Icha, semua dimulai dari sebuah berita di BBM yang dikirim Ajo ke Grup Keluarga Pak Pudin.

16 Maret jam 11.34 : Bapak Pudin dirawat di Budhi Asih kamar 507.

Singkat.

Sebagai anak, Icha langsung telepon mama, dari seberang telepon mama meyakinkan Icha untuk tidak usah datang ke Jakarta. Sakit ringan, katanya.

Setengah kalut, Icha memutuskan memaksa izin, walau pekan kemarin sudah tidak masuk 3 hari karena sakit ke Kepala Sekolah. Untung ada Bu Ida, guru yang menjadi among di masa induksi CPNS Icha.

Bergegas, nyaris ngebut pulang dari Tunjung Teja ke Kota Serang.

Jam 13.00, Icha berangkat ke Jakarta dari pintu tol Serang Timur.

Jam 15.35, Icha sampai di UKI, menerobos turun, lalu linglung sejenak karena bingung untuk pertama kalinya turun di pinggir TOL UKI.

Jam 16.00 Icha sampai di RSUD Budhi Asih.
Tertahan masuk, walau akhirnya sempat bertemu papa 5 menit, sebelum akhirnya gantian dengan Mas Eka (yang berangkat dari Tangerang) menjaga papa.

Sejam kurang, Icha diluar rumah sakit Budhi Asih. Shalat, beli cemilan untuk papa, beli minum, dan ketika bertemu mama, ngobrol sambil menunggu pintu terbuka.

Ketika jam 17.00, Icha masuk sama mama, papa sangat segar, duduk, tertawa, bercanda, dan sempat menasehati Icha untuk tidak terlalu sering izin ke sekolah, mengingat status Icha yang masih baru menjadi CPNS. Papa bilang, toh Cuma sakit sedikit, tidak perlu sampai Icha mengorbankan waktu sekian banyak untuk ke Jakarta.

Jam 17. 45, Mama menyuruh Icha pulang ke Tangerang agar besok lebih mudah ke Serang, tapi Mas Eka berkeras, kami menginap di rumah mama.

Setelahnya, kami sampai rumah mama, shalat, makan malam sama Daffi. Dipikiran Icha, berdasarkan apa yang Icha lihat, penyakit papa termasuk ringan, prediksi Icha, seminggu lah maksimal papa akan dirawat. Ternyata Allah menakdirkan lain untuk kehidupan kami.

Jelang tidur, Icha telepon mama, berdasarkan kesepakatan sore tadi, Ajo Aish yang akan berjaga dirumah sakit malam ini, bertanya dimana mama. Mama mengabarkan sedang ditaksi menuju pulang, papa sempat kejang tadi.

Mama pulang kemudian meminta Mas Eka untuk menelepon Ajo Aish kerumah sakit. Ajo mengabarkan papa tidak sadarkan diri.

Panik.

Jam 21.30, kami semua kembali kerumah sakit.


Waktu mulai melambat ketika Icha menulis ini.

Semua adegan dirumah sakit kembali membayang. Sampai rumah sakit, kami melihat papa dirubung paramedis. Di uap, di pompa dahaknya. Nyaris histeris Icha melihatnya. Berkali – kali bertanya pada udara, kok papa jadi gini? Tadi ditinggal masih baik – baik saja.


Panik, bingung, berusaha tenang agar pikiran tidak terlalu kalut. Dikasih penjelasan dari dokter IGD (untuk catatan, papa sudah masuk ke Kamar Rawat sejak pertama masuk ke RSUD Budhi Asih tapi belum diperiksa – periksa hingga detik meninggalnya papa). Tanda tangan persetujuan memasang selang nafas. Berkali – kali Icha bertanya ke dokternya, apa kemungkinan terburuknya, tapi penjelasan dokter membuat Icha membayangkan bahwa ini masa kritis yang bisa dilewati papa. Papa akan segera sadar, besok Icha akan bercengkrama lagi dengan papa.

Dokter IGD ini sempat memberi penjelasan, bahwa papa tidak bisa masuk ICU, karena kemungkinan, ingat 
ya, semua masih KEMUNGKINAN, papa flek paru. RSUD Budhi Asih tidak menerima pasien Flek Paru di ICUnya.

Selesai disedot dahak papa, papa mulai dipasang selang untuk bernafas. Icha, Mas Eka, Daffi, dan Mama mengerubungi papa. Mama memijat – mijat kaki papa, kami masih berpikir dan mungkin, tanpa kami sadari, kami berharap, semua ini berlalu. Papa kembali sadar.

Tidak lama, paramedis yang memasang infus papa pergi sebentar keruang perawat, Icha mengerenyit dan berkata, kok gini doing, ini belum selesaikan mas?

Ga lama, paramedis kembali datang, mungkin mulai menyadari denyut jantung papa mulai melemah. Segera berlari lagi keruang perawat dan memanggil dokter. Mama mulai histeris ketika dokter mulai menekan – nekan jantung papa, memanggil – manggil papa. Icha menuntun mama keluar lalu kembali, sangat pelan ketika kesadaran itu datang, sadar bahwa perut papa berhenti kembang kempis.

Berbisik ke Aish, Jo, Lo liat deh perut papa, ga ada nafasnya. Masih menahan histeria yang mulai meledak dalam hati, masih berharap ini berlalu. Berharap papa kembali dari krisisnya.

Ketika dokter mengambil senter dan memeriksa tanda kehidupan di mata papa, saat itu, Icha berlari keluar dan meledak. Menangis, dijendela lantai 5, memandang langit dan menghiba, berharap keajaiban terjadi, tidak lama Daffi datang, berdua, kami memandangi langit hitam pekat yang mengabur dimata kami. Benar – benar berharap keajaiban datang. Berharap adegannya akan berubah.

5 menit kemudian, dokter keluar dari kamar 507, memanggil Icha dengan lambaian tangan, saat itulah Icha merasa langkah Icha melayang, pelan, kesadaran Icha menyeruak, tapi masih kalah dengan harapan bahwa ini semua akan berubah.

Bu, saya sudah berusaha, tapi bapak sudah tidak ada.

Dan tangispun meledak dilorong rumah sakit, mama kembali histeris, tanpa sadar, sambil menangis Icha mengulang – ulang kalimat yang sama, Kok akhirnya gini Pa?

Ajo tersungkur dilantai, Daffi berdiri menangis, Mas Eka, menyadar di pintu kamar. Dukanya masih mengaung hingga detik ini.

Dan semua berjalan gamang. Mama menangis sehingga harus dituntun Aish hingga ke taksi. Mas Eka mengurus semua administrasi hingga keruang jenazah. Dan Icha jongkok disamping jenazah papa. Masih mengulang pertanyaan yang sama ditemani kilasan memori, harapan, dan cita – cita tentang papa.

Tidak lama, Mas Eka kembali, berdua, kemudian bertiga, kami mengurus barang – barang yang sempat dibawa dari rumah sore tadi. Sementara papa sedang diurus jenazahnya untuk dibawa ke kamar jenazah. 

Kemudian Uncu datang.

Sampai dikamar jenazah, Mas Eka menangis meraung, baru kali itu Icha melihat Mas Eka menangis meraung seperti anak kecil dan memanggil – manggil papa. Tegarnya luluh saat itu. Hingga akhirnya jenazah papa dimasukkan ke ambulance. Icha dan Mas Eka ikut ambulance. Rasanya aneh mendengar sirene Ambulance yang membawa jenazah orang yang jelas – jelas kami kenal.

Jarak terasa amat jauh.

Sampai rumah susun, Satpam rumah susun membuka jalan untuk memudahkan ambulance masuk. Jenazah papa disemayamkan di koridor lantai 1menunggu Pak Lek (Adik papa yang di Padang) datang dari Padang. 

Jam 9.00 Pagi, kami mulai resah karena Pak Lek belum juga datang, Alhamdulillah, tidak lama Pak Lek datang, mengingat ekspresi Pak Lek begitu tiba sungguh menimbulkan nyeri, terakhir mereka bertemu Desember 2012, saat Icha menikah. Dan sekarang, mereka bertemu dalam kenyataan satu sudah mendahului yang lain.

Menjelang dimandikan, Ajo Aish menangis histeris melihat Jenazah Papa akan dimandikan. Sudah 2 anak Papa yang kemudian meledak, Icha sempat bertanya dalam hati, kapan kesedihan dan kehilangan ini meledak sebegitu besar? 5 hari kemudian, Icha mengalaminya.

Menjalang dishalatkan, Masji di Rumah Susun mulai ramai. Alhamdulillah Pa, banyak yang menyalatkan, lebih dari 60 orang Icha hitung, lega. Jam 11.00 siang, prosesi pemakaman dilakukan.

Jenazah lelaki yang membesarkan Icha dengan segala pengorbanannya dikebumikan. Tidak ada reaksi berlebihan. Tidak ada tangisan lebay. Kesadaran menguasai, raungan tangis akan menghambat perjalanan papa.

Disinilah kami, tertinggal. Menunggu urutan, melakukan yang terbaik setelah kepergian Papa. Hanya mampu mengirim doa, yang terkadang terasa kurang melegakan.


Ditulis di Serang, 25 Maret 2015
Dilanjutkan di Serang 6 April 2015
Dilanjutkan dan di publish di Tunjung Teja, 17 April 2015

Kami akan menyusul Pa, entah kapan, tapi urusan Papa didunia, biar kami yang melanjutkan. Semoga Allah melapangkan tempat Papa menunggu sekarang, meneranginya, menjauhkan Papa dari siksa kubur, Semoga kelak, Allah meridhoi kita hingga berkumpul di Jannah-Nya


Kamis, 09 April 2015

Puisi untuk Papa

Pa, kata orang, cinta tak bertepi itu milik orang tua terhadap anak…
Dan kami merasakan itu dari dirimu…
Pa, kata orang, kehilangan itu menyakitkan…
Dan kami mengalaminya sekarang…
Maafkan kami Pa, karena tidak mampu membalas pengorbanan, cinta, dan segala ketulusan dari Papa…
Maafkan kami atas segala janji terucap yang belum mampu kami wujudkan…

Setelah kepergian papa, ada kosong yang tidak akan kami ganti dengan siapapun,
Setelah kepergian papa, kami memulai lagi dengan separuh sayap yang tidak utuh.

Terima kasih karena tidak menyerah menjalani hidup demi kami.
Terima kasih karena telah memberikan kami bekal kehidupan yang cukup

Yang tertinggal sekarang didunia, biar kami yang meneruskan
Yang Papa khawatirkan biar kami yang melanjutkan

Kita berpisah didunia, semoga Allah menyatukan keluarga kita utuh di SurgaNya atas KehendakNya.

Papa waktu menikahkan putri satu - satunya :D


#ketikaIchamerindu

Kamis, 05 Maret 2015

...Pindah Lagi... Tangerang To Serang

Bismillah, tanggal 17 Februari 2015, akhirnya keputusan final keluar.
Penempatan Icha di SMKN 1 Tunjung Teja.
Dimana ituuuh?

See This! 
    

Awalnya kami berniat untuk pindah ke Perumahan Citra Gading. Soalnya nenek Icha ada yang tinggal disana, tapi Takdir ALLAH berkata lain, rumah yang kita incer katanya sudah di ambil orang. Jadilah kami sedikit kelabakan mencari kontrakan baru. Dapatlah di sekitar Banjarsari.

Perjalanan hidup memang tidak selancar di Jalan Tol Serang - Tangerang. Mulai dari kekurangan uang untuk pindahan hingga ada saja insiden - insiden yang bikin nyesek.


Mulai dari pembagian SK hingga akhirnya masuk tanggal 2 Maret, Icha 2 kali harus bolak balik ke BKD untuk pembekalan. Cuma punya sisa waktu kurang dari seminggu, tapi 2 hari dipakai untuk bolak balik ke BKD, sehari harus ke Jakarta, jadi total hanya ada 3 hari untuk packing barang - barang.

Tanggal 28 Februari kami pindah. Untuk pertama kalinya, Icha pindahan diantar mertua dan orang tua sekaligus. 

Banyak pengalaman nyaris tidak terlupakan, misalnya, cuma dijalan serang aja Icha pernah temui ular panjang dan besar terlinda mobil ples motor. Dan di Serang juga Icha lihat pengendara mobil dan motor kompak ngebut ga pakai akal. Dan sepertinya, Icha juga mulai ikut - ikutan ngebut - ngebutan kayak mereka deh. Ahahahha.

Perjalanan masih panjang. Masih 60 bulan untuk diizinkan pindah dari sekolah ini. Bismillah

Jumat, 30 Januari 2015

Curhat

Bismillah..

Menatap layar kosong yang nyaris ga berisi apa - apa.
Hari ini temanya menggalau, rasa sakitnya entah mengapa begitu bertubi.

Sudah hampir 3 pekan terkakhir bolak - balik rumah sakit lagi. Kalau dulu untuk antar Mak Uwo, sekarang untuk antar Ayah Uwo.

Sejak resign dari NF, Icha nyaris jadi IRT. Tidak melakukan banyak hal yang berarti untuk orang lain. Pun suami Icha mengeluh tentang ketidak bergunaan Icha akhir - akhir ini.

Rutinitasnya IRT sebenarnya berat. Menyita waktu yang jauh lebih banyak dari Wanita Pekerja. Karena kegiatannya berulang dan terus - menerus. Tapi cenderung mendatangkan kejenuhan terutama untuk keluarga yang belum ada anak seperti Icha.

Ada haru biru yang membuat Icha mampu babak belur dilanda rasa itu. Ada kenangan ketika masih bolak - balik antar Mak Uwo.

Keadaan rumah makin membuat Icha ga nyaman dengan ketidak adaan pekerjaan. Mungkin ini masa - masa dimana pernikahan Icha diuji lagi. Baru kemarin dengan jelas suami Icha berkata,
"Pantas kita belum punya anak, gara - gara kamu itu pemarah."

Jujur, rasanya kecewa dengar suami ngomong begitu. Padahal, kita sama - sama tahu apa yang membuat anak itu masih ada diawang - awang.

Malam ini pun beliau pulang telat dan dengan enaknya berkata,

"Jadi Isteri Cerewet banget sih."

Satu lagi luka tertoreh, baiklah, kita ikuti permainan beliau. Jangan menyapa, jangan bicara, jangan pedulikan apapun yang dilakukannya. Jika khawatir itu diartikan cerewet, mungkin tidak peduli adalah gambaran ideal seorang isteri.


#Cilenggang, 30 Januari 2015

31 Januari besok Bang Daffa dan Ayah Uwo tambah umurnya. Makin berkah ya. Peluk Cinta Uni Icha

::))

Rabu, 31 Desember 2014

Melewati 2014

Dimulai dari mana ya?
Ah ya, bersyukur, Alhamdulillah..

atas hidup yang begitu indah, atas anugerah yang tidak berbatas, dan atas perasaan cinta dan dicintai yang begitu kental.

Ga bermaksud ikut - ikutan taon baruan, tapi memang lagi ingin menuangkan banyak hal yang dirasa dan dipikirkan beberapa hari terakhir ini.

Sekedar review momen - momen penting dalam hidup Icha 2014 kemarin.

Januari--> Adik Ipar Icha lamaran. Alhamdulillah :)
Februari --> Nothing Special
Maret --> Umur Icha nambah 1 Tahun lagi :P
April --> Umur mama nambah 1 tahun, Mas Eka nambah 1 tahun lagi, Kanty menikah, Mak Uwo meninggalkan kami untuk selamanya. Hmm, masih berat kok ya rasanya.

Mei --> Ga ada yang benar - benar nge-wow, cuma sekedar makin kuat keinginan untuk tinggal 1 kota sama Mas Eka.
Juni --> Resign dari SDN Cipinang Besar Utara 10 Pagi. Ajo Aish menikah. Mau curhat banyak, tapi ya sudahlah.
Juli --> Mulai fokus urus cari kerja di Tangerang Selatan, ditolak disana - sini. Lebaran kedua bareng Mas Eka.
Agustus --> Pindah ke Cilenggang, Serpong, Tangerang Selatan.

September --> Mulai jadi FullTime di Nurul Fikri Tangerang Selatan
Oktober --> Apa ya?
November --> Tes CPNS, saking ga niatnya ikut, Icha ga belajar, sibuk urusin Criminal Case, main sana sini sama Miong..
Desember --> Diterima sebagai CPNS Jalur Umum di Kabupaten Serang. Mba Dwi, isteri Ajo Aish keguguran (asli, rasanya sedih aja mendengarnya, soalnya bakal calon ponakan Icha yang harusnya lahir ga jadi lahir, yah walaupun usianya baru 3 bulan dalam kandungan)

Jadi, secara keseluruhan, hidup Icha itu terberkahi banget (Insya Allah), 2014 bukan hanya dilalui dengan air mata, dengan kehilangan Mak Uwo dan banyak perasaan useless dengan penolakan dan kekhawatiran sana - sini. Tapi juga di penuhi anugerah - anugerah yang tidak disangka - sangka datangnya. 

Icha benar - benar tidak merencakan untuk diterima CPNS, hey, gaji Icha di NF jauuuuuh lebih banyak dari gaji PNS golongan IIIA. Bukan tidak bersyukur, tapi keluarga Icha sedang membangun bukan?
- Dijewer Ayah terus diingetin alasan dan mimpi - mimpi kita - Icha dan Mas Eka- tetap memilih dan bertahan sebagai guru-

Tahun yang sempurna, karena semua yang terjadi sudah sesuai dengan ketetapan Allah, tidak ada penyesalan, berusaha menikmati setiap prosesnya.

Walau kami masih sama, masih sama - sama menunggu munculnya junior kami dalam rahim Icha, tapi kami kemudian hidup hari ke hari dengan keyakinan, segala sesuatu, selama itu berada dalam jalur yang benar, selama itu tidak melanggar aturan agama, norma hukum dan adat, all is well.

Intinya, Icha bersyukur atas tahun yang sudah berlalu, berharap yang terbaik untuk tahun yang akan datang.

Cilenggang, SERPONG

Rabu, 06 Agustus 2014

Pindah.. Jakarta - Cilenggang

Setelah melalui 1 Tahun 1 Bulan "ngontrak gratisan" dirumah keluarga di Cipinang Besar Selatan, Icha dan Mas Eka memutuskan untuk pindah, merapat ke tempat Mas Eka bekerja di SMAN 12 Tangerang Selatan (FYI, Icha itu lulusan SMAN 12 Jakarta - Etdah)

Kalau ditanya kenapa milihnya merapat ke-12 bukan ke SMP PGRI 1 Tangerang jawabannya, karena disini masih banyak kontrakan yang manusiawi, dengan cost yang relatif lebih murah.

Maksudnya?

Ya, rumah kontrakan petakan di Tangerang Kota itu kecil - kecil dengan kisaran biaya 600-800 ribu, jauh banget bedanya sama Cilenggang.

Dan disinilah cerita dimulai.

Setelah memutuskan pindah, Icha pun resign dari SDN Cipinang Besar Utara 10 Pagi.

Yang sekarang kerasa kangennya sama bocah - bocah mantan kelas IV B. Ahhh, peluk peluk.

:D

Terus selama seharian menjelang lebaran, Icha dan Mas Eka baru sibuk cari rumah kontrakan, dapet sih, tapi malah jadi bencana pas kita akhirnya benar - benar pindah ke rumah itu. Terlalu menyakitkan untuk diceritakan. Skip aja deh.

1 Agustus 2014, akhirnya benar - benar pindah, setelah sampai di rumah kontrakan yang ga kita rencanakan awalnya, setelah mama - papa - daffi - ajo aish - nanung -  dan om pras pulang, baru deh kerasa sepinya.

Rumahnya sih lumayan lah ya, agak luas. Tapi belum di plafonin gitu, jadi cuma genteng (genteng sodara - sodara) dilapisin terpal. Hiks. Tapi karena darurat ya mau diapain lagi kan ya.

Hari pertama berjalan lancar ga ada hambatan. Setelah makan malam di Giant BSD Serpong, kami memutuskan untuk beristirahat.

Hari kedua, masih lancar sampai sore, tetibaan sehabis Maghrib lampu mati. Huaaaaa. Berhubung kerjaan Mas Eka masih menumpuk, "ngungsi" lah kita ke McD BSD. Makan malam sekalian, jam setengah 10 baru pulang.

Hari ketiga, pagi - pagi jalan ke Pasar Serpong. Beli rak jemuran, selang air untuk mesin cuci sekalian sama selang pembuangan airnya. Dan tau ga, ternyata harga di sini lebih mahal dibanding harga di Jakarta. Kisarannya beda 20 - 30 rebu. Waduh.

Hari keempat, Icha memutuskan untuk masak pertama dirumah ini. Untungnya jalan ke tukan sayur dari rumah ini dekat bingiiiits. Sampai tukang sayur bingung mau masak apa. rencananya mau buat sop buat si Mas. Dan tau ga, ditukang sayur dekat sini ga jual bumbu racik gitu. Yang ada bumbu sop yang plastikan tapi rempah - rempah gitu isinya. 

Icha sih emang ga pernah bikin sop pakai bumbu racik, palingan cuma bawang putih, lada bubuk aja. Tapi karena penasaran sama bumbu rempahnya, Icha belilah, ternyata pas dibikin... HUaaaaaaaa, enyaaaaak, maknyus, Masya Allah.

Di hari keempat ini juga lampu mati (lagi). Sebagai anak Jakarta yang lahir dan besar dan tumbuh di Jakarta, listrik itu kebutuhan vital buat Icha, ga ada listrik, TV, Laptop, Hape2 itu sekarat. Kebayang dong uring - uringannya Icha.

Udah ah, segini dulu curhatnya dilanjutin lain kali. Insya Allah

MST
Cilenggang (Sebuah KELURAHAN di sebuah kecamatan di sebuat KOTAMADYA Tangerang Selatan dengan taste Desa :P )
6 Agustus 2014

Senin, 07 Juli 2014

1 Tahun 6 Bulan 15 Hari

Duhai Suamiku sayang, untuk kali ini, izinkan aku menangisi kita.
Sesuatu yang jarang aku lakukan, sekalipun kehidupan ekonomi kita begitu beratnya akhir – akhir ini.
Sayang, apa yang salah pada kita?
Benarkah perasaanku yang bilang kita terlalu berlumur dosa hingga tidak Allah izinkan rahimku membesarkan keturunan kita?
Aku mencintaimu, sejak pertama, bertahun yang telah lalu, hingga saat ini. Alhamdulillah, tidak sekalipun rasa cinta itu berkurang, sekalipun kadang kita terlalu naif menjalani hubungan kita. Sayang, satu persatu, kakak dan adik kita menikah dan kemudian hamil.

Lalu perasaan jahat itu muncul. Perasaan iri dan jauh dari syukur. Padahal kamu terus mengajarkan padaku, bahwa bahkan tiap helaan nafas kita adalah nikmat yang tidak dapat dibayar. Bahwa dengan pekerjaanmu yang menggunung, sehat adalah anugerah tanpa batas.

Sayang, dikamarmu kini, aku menangis. Menangisi dia, anak kita, yang entah kapan Allah takdirkan tumbuh dan berkembang untuk dilahirkan dengan sehat dan lengkap. Aku membutuhkanmu sekarang, membutuhkan pundakmu, seperti pagi kemarin ketika tiba – tiba aku menangis.

Demi Allah, yang nyawaku ada dalam genggamanNya, aku bahagia, mereka, Kakak – Adik kita hamil terlebih dahulu. Seolah ada beban setoran yang akhirnya terlunasi untuk kedua pasang orang tua kita.

Tapi, aku pun tak sanggup dengan pandangan kasihan dari mereka. Aku hanya berharap akan pandangan cinta dan kasih sayangmu, karena dimasa tua nanti, jika memang kehendak Allah atas kita adalah tanpa keturunan, selamanya kita akan bergenggaman tangan.

Sayang...

Bukankah selama ini, walau tidak sempurna, kehidupan kita bahagia?

Walau sangat inginnya kita akan hadirnya anak – anak yang meramaikan rumah kecil kita ?

Ah sayang, perlahan air mataku mongering, derasnya tidak seperti tadi. Perasaanku penuh, mengingat janji yang Allah berikan untuk mereka yang bersabar.

Maafkan isterimu yang terlalu sering mengeluh, jauh dari syukur.

Sayang, lekaslah pulang, peluk aku dan bisikan lagi sabar ditelingaku, mungkin seringkali aku begitu bebal hingga bisikan lembutnya seolah semilir angina, atau kadang aku terlalu keras kepala sehingga semua nasihatmu bagai tidak membekas.

Bersabarlah sedikit lebih banyak lagi mulai sekarang, bisikan cinta lebih mesra lagi sekarang, bantu aku melalui masa sulit bernama cemburu.

Wanita yang selalu mencintaimu, selain ibumu.


Marrisa Syarif Tanjung

Jumat, 30 Mei 2014

Jalan - Jalan Gratisan (Part I) - The Day

Sampai sehari sebelum berangkat, Icha masih belum benar - benar yakin mau kemana, setiap kali di tanya, Mas akan jawab, Lembang.

Ya udah lah ya cyiiin, secara juga jalan - jalan gratisan, semua ikutan aturan yang punya acara dong ya. Lanjut dari cerita semalam, setelah sampai rumah Ibu, Icha dan Mas Eka sempat main HT, padahal cuma sekedar, mas diruang tengah lantai atas, dan Icha dikamar Mas Eka, yak fix, kami memang kekanakan.

Skip . . . Skip . . . Skip . . .

Jam 03.45 (waaaaaaat!! Telat iki, 45 menit dari rencana bangun semula, kebayang yah, 45 menit itu sempat mandi dan beberes). Gerabak gerubuk mandi dan segala macam. Terus jam 04.30 baru berangkat, ih ini beneran telat, bahkan Kepala sekolahnya Mas Eka yang tinggal disebelah rumah Ibu, udah berangkat duluan, sumpyaaaaaaah.

Baru berangkat jam 05.52 dari Cikokol (SMP PGRI 1 Tangerang), mana pisah tol dari rombongan yang lain. Yang lain masuk tol Dalkot, bis 7 malah masuk tol BSD, ini gegaraan si Mas Eka main ambil keputusan sepihak, ahahahaha. Akhirnya, sepanjang jalan, kami jadi rombongan bis yang selalu paling akhir.

Jam 10 kurang, sampai di Tangkuban Perahu, ya ampyuuun ternyata kami kesini, kenapa ga bilang dari awal sih Ayah?
Pemandangan Tol Cipularang :)
Sempat nunggu dulu sebentar sebentar, ditinggal mas karena beliau harus bolak balik ngurus ini itu. Dan untung, ditengah jalan, HT Mas dipinjam sama temannya, jadi untuk sementara (yang benar  - benar sementara :(  ), Mas Eka jobless sebagai panitia. Huahahahaha.

Ketika Ayah Jobless, Ahahaha
Setelah nunggu yang cukup lama, akhirnya Icha dan Mas Eka berhasil naik ke mobil yang mengantar kita naik ke kawah. Yang bikin muka Icha merah malu, saking sempitnya (ya bayangin aja, itu mobil dinaikin sekitar 20 orang -kurang sih- yang umpek umpekan didalam) Icha terpaksa dipangku Mas Eka, dan kami berdua sukses di cengi-in sama teman - teman Mas Eka. Huaaaa. Ampyuuuun.

Saking malunya, begitu turun, Icha langsung ngibrit ke lain arah sama si Mas Eka. Yup, sampai si Mas muter-muter nyariin Icha. :P

Kawah Ratu yah namanya?
Wajah sumringah si ayah ketika bertemu bunda tersayang.
Iya kan yah?

Ternyata ini loh ya yang namanya Gunung Tangkuban Perahu. Hahaha, ga pernah kesini soalnya :D
Berhubung waktu kesini lagi momen Libur Nasional, (atau mungkin setiap hari ya?) Ini Gunung Tangkuban Perahu penuh banget, ada turis lokal dan turis mancanegara. Lumayan bersih. Mesjidnya juga lumayan besar (terutama bagian laki - lakinya). Apalagi ya... Hmmm...

Pas baru sampai, Mas langsung ngajakin makan jagung bakar -efek udara dingin, alibi si Mas-. Sambil menikmati kejauhan pemandangan yang asli -Masyaallah- kereeeen pake bingiiits, ditemani segelas Teh Manis Panas, yup, benar-benar segelas yang kami nikmati sangat. Ada sedikit kecelakaan kecil, Mas Eka lupa bayar jagung bakarnya. Huahahaha, jadilah kami diteriakin sama yang punya warung. ampyuuun.


Penuh siswa - siswi SMP PGRI 1 Tangerang
Makan jagung bakar dan teh manis panas, Alhamdulillah, enaaaak


Dipotoin sama siswa Mas Eka, Lounching pertama kami di blog ini :P
Semoga genggamanmu semakin erat semakin hari berlalu. Aamiiin
Oh ya, setelah bosen jalan - jalan disekitaran jalur utama, kami masuk ke jalan - jalan menuju plang Kawah Ratu yang kiri kanannya itu penuh dengan penjual souvenir. Daerah sebelah sini jauh lebih sepi ketimbang jalur utama. Tapi bau belerangnya paling nyengat, berhubung semalam kurang tidur juga, seketika Icha pening.



Niatnya mau poto selfie yang kelihatan kawahnya, tapiii ya gitu deh.
Gara - gara foto selfie gagal diatas, Icha malah berniat mau beli tongsis, Ahahaha.

Selepas Dzuhur, kami, Icha-Mas Eka, Pak Arief (Teman ngajar Mas Eka) dan Mba Tika (isteri Pak Arif) balik ke parkiran. Dan ternyata, kami jadi peserta terakhir yang sampai ke parkiran, sambil makan siang didalam bis, kami berangkat lagi ke Sari Ater, Ciater.

22rebu untuk sebuah tempat yang menyenangkan karena banyak banget airnya
Terakhir ke Ciater kapan yak?
Udah lama banget kayaknya, jaman - jaman SD, jadi lupa gitu sama keadaannya disini, yang jelas, Icha khilaaaaaf, lihat banyaknya air dimana - mana, liat jeram - jeram kecil di sungai yang mirip got gitu, huaaa, sempat ngobak sebentar sementara seluruh siswa dan guru SMP PGRI 1 Tangerang sedang melaksanakan acara perpisahan gitu. Airnya ga hangat, yang hangat malah dibeberapa kolam yang paling depan.

Selain itu sempat juga ketemu kucing cantik yang menggemaskan,sampai beliin ati ampela buat si miong, tapi dimakan separoh aja sama si miong.

Si Miong cantik


Ga banyak yang kami lakukan, kebanyakan jalan dan main air di kolam jelang kepulangan, waktunya mepet, Ayah sempat ajak main bebek sepeda air gitu, tapi kebanyakan yang genjot si Ayah, teteup sambil HT-an sama temannya didarat. Boakakakak.

Menjelang keluar dari Sari Ater, Mas Eka sempat jadi announcer dadakan yang memanggil seluruh rombongan SMP PGRI 1 Tangerang. Yeaaaah, suaranya beda loh dibanding ngomong langsung atau bahkan ditelepon, Aiiih, makin cinta.\

Jam 16.30, hampir semua orang dalam rombongan kami sudah keluar, lagi - lagi Icha ditinggal didalam bis, sedang Mas Eka bolak - balik periksa sana - sini bareng teman - temannya yang lain, lengkap, kami langsung pulang.

Sempat mampir di Purwakarta, beli oleh - oleh dan makan malam.
Jam 22.20, bis kami tiba di Cikokol. Jam 23.15 baru sampai dirumah, 23.00 kami resmi tidur. Hehehehe
Dan kalian tahu, jam 4.30, Icha sudah harus bangun, dan dengan kantuk yang sangat, kami ke Jakarta naik motor. Hari yang keren.

:)

-Marrisa Syarif Tanjung-
Kamar kostan (gratisan), Jakarta, 30 Mei 2014
16.04



Jalan - Jalan Gratisan (Part I) - Semalam sebelum

Sesungguhnya, rangkaian cerita ini dimulai sejak tanggal 28 Mei 2014 siang.
Sampai sekolah, jam 09.00, Icha dapat kabar kalau hari ini siswa akan dipulangkan lebih awal (setelah diberi tugas dirumah tentunya) karena seluruh guru dan tenaga kependidikan di SDN Cipinang Besar Utara 10 akan mengadakan rapat agak ga formal membahas UKK besok (tanggal 4 Juni 2014) di RM. Agro, Cilangkap.

Ya jujur deh, ini mah kebanyakan niatnya mau makan siang aja. Sekalian, ditraktir beberapa guru PNS yang milad bulan Maret – April – Mei setahu Icha.
Pulang dari Cilangkap, Icha pulang duluan, naik 02 merah, turun didepan PGC, terus mampir sebentar untuk beli celana jeans Mas Eka, yang walaupun akhirnya itu celana jeans terbuang – buang gitu aja karena Mas Eka-nya ga suka.

Sampai rumah menyempatkan diri untuk menyuci baju dulu, niatnya sebentar, malah jadi 2 jam penuh dirumah untuk sekedar menyuci sampai menjemur. Jam 17 kurang, semua aktifitas cuci menyuci itu baru selesai, dan langsung ke Tangerang.
Disini lah sebenarnya petualangan dimulai.
Karena ragu mau naik apa, yang jelas saat itu Cha sedang ga minat naik CL, akhirnya memutuskan untuk naik M 06 A dari depan gang penas. Ternyata, penuh semua itu 06A. Akhirnya niat menunggu Mayasari 117. Muncul sih akhirnya, tapi ternyata si 117 itu tidak mau berhenti depan Gang Penas, 117-nya berhenti di Halte Penas. Dengan banyaknya bawaan Icha, ga mungkin dong Icha kejar. Akhirnya hanya pasrah ditinggal 117.

Tunggu punya tunggu, 45 menit kemudian, baru berhasil naik M 06A. 18.30 baru sampai Pasar Rebo. Ternyata, Agra yang menjadi unggulan Icha di sini, ketimbang 117 ya, juga tidak menampakan batang hidung (eh,,,,, bumper ya)-nya. Menunggu lagi, muncullah si Agra setelah 15 menit menunggu, dan Subhanallahnya penuuuuuuuuuuuuuuuuuuh pakai bingiiiiiitsss.

Ga kebawa lagi, akhirnya menunggu lagi. 30 menit kemudian, muncullah 117 yang lain. Dalam hati membatin sambil setengah menangis (dalam hati juga), ngapain jauh – jauh ke Pasar Rebo, kalau naiknya 117 juga.
Petualangan berlanjut, di 117, Alhamdulillah ya, dapat duduk, walau cuma setengah bokong. Aaaarrrrrgggggghhhhh, sumpah, itu capeeeeee banget duduk setengah – setengah gitu. Pegeeeeeel.

Jam 21.00 baru sampai di Gading Serpong, dan agak nge-wow karena sadar, besok harus bangun jam 3.00 biar ga telat ke sekolah mas, SMP PGRI 1 Tangerang.

Toh Beh Continuedeeeedh… :D ke Part I-The Day

Senin, 31 Maret 2014

Menghilang

Eh, apa sih ini?
Ahahaha.

Postingan pertama ditahun 2014.
Hua lama kali ga Online di Blogspot.

Mau berbagi soal cerita mendapat anak. 1 Tahun 3 Bulan 1 Minggu 2 Hari sudah kami menikah. Selama itu belum juga Allah mempercayai kami akan amanah yang indah bernama anak.

Yeah, belum ada Icha Junior atau Eka Junior yang lahir atau setidaknya ancang-ancang mau masuk ke dunia.

Sabaaaaaaaar.

Kalimat itu sering banget Ayah bisikin saat Icha kembali menggalau ketika teman-teman yang nikah jauh dibelakang Icha sudah hamil bahkan sudah melahirkan. Ah, memang sabar itu pekerjaan berat, tapi katanya hasilnya menyenangkan. Entahlah.

Pertengahan Februari kemarin, Icha HPHT tanggal 15 Februari. Dengan waktu jeda 28 hari, maka, harusnya Icha dapet lagi tanggal 15/16 Maretan.

Eh tetibaan tanggal 3 Maret, keluar Flek gitu. Kaget, Panik, setengah berharap hamil. Ke SPOG lah kami.
Karena dua-duanya masih honorer sekolah, yang belum dapat tunjangan apa-apa, maka kami memilih RS. Persahabatan yang biaya konsul dokternya jauh terjangkau sama kami.

Awalnya ditangani oleh dokter Noura. Untungnya dokter awalnya perempuan, karena konsultasi selanjutnya ditangani dokter Erick.

Diagnosa awal dokter Noura adalah PCOS. Sekilas soal PCOS adalah ukuran sel telurnya kurang besar sehingga tidak mungkin dibuahi. Katanya sih akibat hormon atau berat badan.

Diputuskanlah untuk USG Transvaginal. Biayanya 200.000 (di Persahabatan ya)

Di dokter USG, ternyata menurut dokternya semua normal, ga yakin dong, balik lah ke poli kebidanan, ketemu sama dokter Erick. Kata dokter Erick, ukuran sel telurnya dan jumlahnya normal kok, ga ada kista dan gangguan yang lain.

Tapi Rahim Icha apa ya sebutannya, rahim kebalik gitu deh, jadi dia mencong gitu. Disaranin sama Dokter Erick untuk mengubah posisi HB. Selain itu, dokternya juga menyarankan kita untuk cek sprema dan HSG.


Seminggu kemudian, Ayah cek Sprema di laboratorium biologi UI di Salemba. Biayanya 225.000
Hasilnya jumlahnya agak kurang tapi semuanya normal dan baik-baik saja.

Nah, tinggal tunggu HSG, tapi ternyata baru selesai haidh itu tanggal 27 Maret, terus, untuk HSG itu idealnya hari ke-9, 10, 11 setelah haidh pertama (untuk masa haidh 7 hari selesai yak).

Karena hari ke-9, 10, 11 jatuh pada tanggal 29, 30, 31 Maret 2014, dan ke-empatnya hari libur, maka, kemungkinan besar HSGnya ditunda dulu.


Doakan semua baik-baik saja.
Aaamiiin

Update HSG yang pernah Icha tanya:
- Persahabatan : 500.000
- RSIA Tambak : 950.000
-RSIA Hermina : 950.000
-RS. MH. Thamrin : 1.000.000
-Pramita Labs : 900.000


:)

Selasa, 23 Juli 2013

Perjalanan Mencari Tanah

Bismillah..

Bermula dari acara beli TiPi Mama yang kemarin meleduk, ahahaha. Akhirnya dapat info dari isteri paman bahwa ada tanah yang dijual di daerah Rajeg, Kabupaten Tangerang.

Nah, mama yang 10 Tahun lagi mau pensiun, langsung kusuk-kusuk ngebet mau itu tanah (padahal jauhnya ajeeeeb).

Hari Selasa (21 Mei 2013), mama sama papa melihat tanah itu ke Tangerang, pulang-pulang dengan tampang excited mama cerita tentang kondisi tanah yang katanya amat sangat strategis, yah intinya cuma satu, Mama jatuh cinta sama tanah itu.

Setelah sampai rumah jam 20.00, mama sibuk kasih kabar ke Ajo Aish dan setengah memaksa Icha untuk telepon mantunya yang udah tinggal lama di Tangerang

Tanggal 22 Mei 2013, agendanya cuma satu, perpisahan kelas 6 ke the jungle. Sebelumnya, semalaman berusaha nge-faks fotokopian Akta Jual Beli tanah di Rajeg itu untuk dicari tahu keabsahannya (yang dikemudian hari, Icha tahu ini salah dan ga boleh tanpa seizin yang punya tanah :hammer: )

Di pagi hari, kemudian rencana berubah, setelah dandan cantik untuk ke The Jungle, malah dapat tiket ke SMESCO untuk nonton I'm the superstar. Tiket yang awalnya dibilang gratis itu ternyata harus bayar, nonton ga nonton, beberapa minggu kemudian ada bapak-bapak dari Dinas yang datang nagih ke sekolah.

 Petualangan dimulai jam 8.00 WIB, ambil tiket ke sekolah dan langsung meluncur ke Kampung Melayu, di Kampung Melayu, agak ragu, mau turun di perempatan Shinta atau turun di Kebon Jeruk terus lanjut ke Rajeg. Nanyalah sama abang kernetnya, terus disaranin naik sampai Perempatan Shinta ketimbang turun di Kebon Jeruk dan naik bis lagi.

Selama perjalanan ke Tangerang, di 119, Icha sempat tidur, beda banget rasanya, biasanya tiap pagi perjalanan dari Tangerang - Jakarta, sekarang, untuk pertama kali, pagi hari menempuh perjalanan dari Jakarta - Tangerang pagi-pagi.

Jam 11.00 lewat, sampai di perempatan Shinta, nah kebaikan pertama Icha temui disini, Abang Supir dan Kernetnya benar-benar mengingatkan Icha untuk naik angkot ke Cimone dan lanjut angkot ke Daon. Kenapa icha bilang baik banget, karena ngingetinnya benar-benar berkali-kali, terus nunjuk-nunjuk ke angkot yang arah ke Cimone.

Pas turun, ternyata ada bapak-bapak yang juga turun di Perempatan Shinta dan berniat naik angkot yang menuju Daon juga, si Bapak ini ngajak Icha untuk bareng. Secara ini bapak umurnya seumuran Ayah Uwo, maka Icha iya-in, udah gitu, Icha benar-benar diperlakukan selayaknya cucu, benar-benar dipastikan ada di belakang dia, diajak ke tempat yang kira-kira angkotnya datang. Ga ngetem-ngetem.

Walaupun turunnya duluan dia dan Icha nggak dibayarin (ketokpalu), Icha bersyukur ketemu sama bapak ini di jalan.

Ternyata jarak Cimone ke Rajeg lumayan jauh. Ga berani tidur, walaupun sebenarnya Icha tipe putri tidur kalau naik mobil, bis, atau angkot, ehehehe.

Sepanjang perjalanan, agak-agak bengong, ternyata sungai sepanjang perjalanan didekat Rajeg itu masih digunakan untuk MCK, whaaat?

Kebayang dong, anak kota kuper macam Icha yang baru pertama kali ngeliat beginian, bengong, ahahaha. Agak menyepelekan tempat itu (ketokpalu di kepalaIcha).Tapi untungnya jiwa penjelajah Icha lagi tinggi-tingginya, Icha dengan sok-nya tetap pede aja nongkrong di angkot itu, walaupun bingung mau turun dimana.

Eh, si abang supirnya lupa nurunin Icha, kebawa beberapa ratus meter dari lampu merah Rajeg, ahahaha. Terus menyusuri jalan sendirian, celingak-celinguk, diliatin orang, ngerasa kumel, bersemangat dan bau. Ahahaha

Sampai lampu merah Rajeg, tanya kelurahan dimana (yang ternyata cuma beberapa meter dari tempat Icha nanya *gelenggeleng*), ketemu sama mba-mba kelurahan, dan tau ga, ternyata baik mba (apa teteh ya) dan mas (aa or akang ya?) di kelurahan baik-baik, malah ada yang nawarin Icha tanah baru kalau mau invest lagi. ehehehe

Selesai dari kelurahan, awalnya mau langsung pulang, eh malah, jadinya liat tanah yang akan dibeli mama, naik angkot dari depan kelurahan, Nah disini, diangkot yang Icha naiki, Icha menemukan kebaikan kedua dari orang asing yang berprofesi sebagai abang angkot. Dengan sangat cerewet, Icha bertanya-tanya soal daerah Rajeg. Tentang keberadaan stasiun kereta (FYI, saat itu Icha sedang melirik CL sebagai alternatif transportasi bolak-balik Jakarta-Tangerang)

Pulang dari tanah di Rajeg, Icha sempat bingung mau kemana, tiba-tiba kepikiran untuk melihat sertifikat tanah di Badan Pertanahan Daerah di Tigaraksa. Actually, Icha itu polos, agak bego sama gampang percayaan, memandang segala sesuatunya mudah dan semudah di Jakarta.

Setelah memberondong mba-mba di POM Bensin Rajeg dengan pertanyaan, bagaimana cara ke Tigaraksa dan alternatif jalannya, Icha shalat Dzuhur, selesai Shalat naik angkot ke pasar Kemis, terus lanjut ke Tigaraksa, yang mana itu angkot, super lama ngetem sehingga Icha beralih ke Ojek, nah lagi-lagi Icha, atas izin Allah, ketemu abang-abang Ojek yang baik dan ga gimana-gimana dengan kecerewetan Icha, sampai nyetopin angkot yang menuju Tigaraksa.

Di Pemkab Tangerang, Icha bertemu dengan ibu-ibu yang tampilannya perlente bangets, tapi luar biasa baik, pas liat Icha cuma punya Fotokopian Akta Jual Beli, si Ibu ini yang ngajarin apa aja yang harus Icha urus biar ini tanah punya sertifikat. Benar-benar diajarin dengan telaten dan sabar (secara Icha bodoh, ehehehe)

Terakhir, pulang dengan merepotkan Kanty yang Icha SMS + Telepon tentang angkot dari Tigaraksa ke Kelapa Dua, secara tadi izin berangkatnya cuma ke Rajeg sama si mas.

Terima kasih penuh untuk Allah Ta'ala yang menjaga Icha hingga sampai ke rumah Ibu.
Terima kasih untuk Ajo dan Mas yang menjaga penuh dengan SMS dan teleponnya.
Terima kasih untuk Kanty atas petunjuk jalan pulangnya.

dan terutama...

Untuk mereka yang bahkan tidak Icha ketahui namanya tapi menemani Icha dengan kebaikannya yang hanya Allah-lah yang mampu membalasnya.


Jakarta, 23 Mei 2013